Simak Pola Asuh Anak yang Baik Untuk Perkembangan Anak

Setiap orang tua memiliki keinginan dan harapan yang sama untuk anak-anaknya. Mereka hanya menginginkan buah hatinya lahir dengan sempurna dan tumbuh sehat layaknya anak-anak pada umumnya. Pola asuh anak pun menjadi penting dalam mewujudkan harapan tersebut. Tanpa pola asuh yang tepat, sulit untuk memastikan akan seperti apa tumbuh kembang anak nantinya.

Perbincangan mengenai pola asuh anak memang seakan tidak pernah ada habisnya. Pola asuh yang berbeda akan membentuk kepribadian yang berbeda pula. Memang sulit untuk memastikan pola asuh seperti apa yang terbaik. Namun pada hakikatnya, pola asuh yang didasari cinta yang tulus dan disesuaikan dengan fase perkembangan anak pasti akan berbuah baik.

Pola Asuh Pengaruhi Tumbuh Kembang Si Kecil

Orang tua sering kali terlalu fokus pada pertumbuhan fisik anak. Banyak dari mereka yang begitu memperhatikan pertumbuhan tinggi dan berat badan anak dan merasa begitu senang saat tahu anaknya tumbuh dengan sehat. Padahal, semua itu hanya satu bagian dari fase perkembangan anak.

Seiring dengan bertambahnya usia anak, kondisi berubah menjadi lebih rumit. Kepribadian anak mulai terbentuk. Tidak jarang, anak bersikap egois dan ingin menang sendiri. Kondisi seperti ini lazim terjadi pada anak-anak. Akan tetapi, membiarkannya begitu saja jelas akan memberi dampak buruk bagi sang anak. Di sinilah peran orang tua sebagai pembimbing dibutuhkan. Di saat seperti inilah, orang tua harus tahu pola asuh anak seperti apa yang paling tepat untuk buah hati mereka.

Baik ayah maupun ibu, keduanya sama-sama memiliki tanggung jawab yang sama dalam mendidik buah hatinya. Anak yang dekat dengan ayahnya cenderung memiliki kepercayaan diri yang tinggi. Di sisi lain, anak yang dekat dengan sang ibu akan memiliki kepribadian yang penuh kasih.

Kehadiran ayah dan ibu dalam fase perkembangan anak akan membantu mereka membentuk kepribadian yang seimbang. Itu karena anak bisa belajar hal yang berbeda dari kedua orang tuanya. Dari figur seorang ayah, anak bisa belajar tentang bagaimana cara menjadi pribadi yang kuat. Sedangkan dari figur seorang ibu, ia bisa belajar bagaimana menjadi sosok yang lembut.

Pola asuh anak yang baik juga memiliki dampak positif dalam hubungan orang tua dan anak. Namun agar bisa menerapkan pola asuh yang tepat, penting bagi setiap orang tua untuk tahu fase perkembangan anak.

Perkembangan Anak

Sulit untuk membicarakan pola asuh yang tepat tanpa menyinggung tentang fase perkembangan anak. Hal ini cukup beralasan mengingat adanya banyak perbedaan dalam setiap fase pertumbuhan. Misalnya saja pada kasus anak balita dengan remaja. Meski keduanya sama-sama membutuhkan perhatian dari orang tuanya, bentuk perhatian yang dibutuhkan akan sedikit berbeda.

Terkait dengan fase perkembangan anak, hal ini bisa dibagi menjadi beberapa kategori seperti fisik, kognitif, bahasa, emosi dan sosial. Berikut penjelasannya.

Perkembangan Fisik

Biasanya perkembangan inilah yang paling terlihat menonjol dan kerap dijadikan acuan utama dalam memantau perkembangan anak. Perkembangan fisik ini cukup mudah diamati secara kasat mata. Berat badan yang bertambah dan tubuh yang semakin tinggi adalah dua hal yang paling tampak dari perkembangan fisik. Namun di samping itu, perkembangan otak dan keterampilan motorik anak juga masuk ke dalam radar pemantauan fase perkembangan anak yang satu ini.

Keterampilan motorik sendiri bisa dibagi menjadi dua, yakni motorik kasar dan motorik halus. Keterampilan motorik kasar ini sendiri berupa kemampuan anak untuk melakukan gerakan-gerakan yang melibatkan otot besar seperti berlari dan melompat. Perkembangan motorik kasar ini biasanya dimulai pada fase perkembangan anak usia 4-5 tahun.

Di sisi lain, keterampilan motorik halus lebih merujuk pada keterampilan anak dalam menggunakan otot kecil dan koordinasi, khususnya koordinasi antara mata dan tangan. Aktivitas fisik yang termasuk dalam keterampilan motorik halus ini di antaranya adalah merobek kertas, mengupas dan sejenisnya.

Perkembangan Kognitif

Bagaimana anak berpikir dan menyelesaikan masalah semua itu sangat bergantung pada kemampuan kognitifnya. Karena itulah, perkembangan kognitif menjadi salah satu aspek yang begitu diperhatikan dalam menentukan pola asuh anak.

Dalam teori perkembangan kognitif yang ditemukan oleh Jean Piaget, seorang profesor psikologi dari Universitas Geneva menyatakan bahwa pada dasarnya anak-anak memiliki cara berpikir yang sama seperti orang dewasa. Dalam teori perkembangan kognitif ini, Piaget membagi fase perkembangan anak tersebut dalam 4 tahapan.

  1. Tahap Sensorimotor (Usia 0-24 Bulan)

    Pada tahap ini, gerak refleks anak masih sangat terbatas. Anak belum mengetahui apa yang sebenarnya mereka inginkan atau butuhkan. Karena itulah, anak-anak di usia ini sering rewel tanpa sebab yang jelas.

  2. Tahap Praoperasional (Usia 2-7 Tahun)

    Pada fase perkembangan anak yang satu ini, anak sudah bisa menerima rangsangan. Hanya saja, reaksinya masih sangat terbatas. Kemampuan komunikasi dan bahasa anak juga mulai berkembang. Hanya saja, anak di usia 2-7 tahun umumnya masih egois. Di tahap ini anak juga cenderung suka bertanya. Pertanyaannya sendiri masih sangat sederhana. Hanya saja dibutuhkan kecerdasan dan kebijaksanaan orang tua dalam meresponsnya. Untuk itulah, orang tua harus menerapkan pola asuh anak yang tepat agar perkembangannya lebih terarah

  3. Tahap Operasional Konkret (Usia 7-11 Tahun)

    Pada tahap ini, anak sudah bisa berpikir secara logis. Kecerdasannya berkembang. Dalam fase perkembangan anak ini jugalah, ego mereka mulai menurun. Kemampuan dalam berempati juga semakin meningkat.

  4. Tahap Operasional Formal (Mulai Usia 11 Tahun)

    Tahap operasional formal ini dimulai sejak anak menginjak usia remaja hingga menuju ke dewasa. Kecerdasan dan kemampuan anak dalam berpikir secara rasional semakin berkembang pada tahap ini. Kemampuan anak dalam menggunakan pikiran logis dengan konsep abstrak juga semakin baik.Di tahap ini, orang tua biasanya tidak bisa banyak ikut campur. Meski demikian, kehadiran orang tua tetap dibutuhkan. Selain itu jika saat masih kecil ia sudah mendapatkan bekal berupa pola asuh anak yang baik, anak akan tahu bagaimana harus bersikap.

Perkembangan Bahasa

Pola asuh anak yang tepat akan mendorong anak dalam mengembangkan kemampuannya dalam berbahasa. Kemampuan ini biasanya mulai terlihat saat ia menginjak usia 1 tahun. Namun kalau diperhatikan lagi, sebenarnya kemampuan anak dalam mempelajari bahasa sudah ada sejak ia dilahirkan. Hal ini bisa dilihat dari kemampuan anak dalam mengeluarkan suara-suara untuk menunjukkan responsnya.

Menurut Schaerlaeken, fase perkembangan anak, khususnya dalam hal kemampuan berbahasa bisa dibagi menjadi 3 periode, yakni periode pra-lingual (kalimat satu kata), lingual awal (kalimat dua kata) yang dimulai pada usia 1-2,5 tahun dan diferensiasi (kalimat tiga kata ditambah dengan diferensiasi). Seiring dengan tingginya rasa ingin tahu anak, kemampuan bahasa ini pun akan berkembang pesat saat ia menginjak usia 4-6 tahun. Tidak mengherankan, anak usia 5 tahun bisa mengetahui 2.500 kata.

Perkembangan bahasa anak akan mempengaruhi perkembangan dalam berbagai aspek. Saat anak mampu berbicara dan berkomunikasi dengan baik, mereka memiliki kesempatan untuk mendapatkan lebih banyak pengetahuan. Untuk itulah, pola asuh anak tidak hanya terbatas pada mengembangkan kemampuan kecerdasannya. Di samping itu, orang tua juga perlu mengembangkan kemampuan anak dalam berbahasa.

Perkembangan Sosio-Emosional

Kecerdasan seorang anak tidak hanya bisa dinilai dari aspek inteligensia. Orang tua juga perlu ingat bahwa sebagai manusia, anak juga perlu belajar tentang bagaimana caranya bersosialisasi dengan sesama. Untuk bersosialisasi, mereka membutuhkan segudang kemampuan seperti mengendalikan emosi dan empati.

Fase perkembangan anak, khususnya dalam hal sosio-emosional ini sebenarnya sudah dimulai sejak masih bayi. Saat merasa senang, bayi biasanya akan menghentak-hentakkan kakinya. Namun saat marah, ia melempar barang.

Peran orang tua menjadi sangat penting di sini. Orang tua harus bisa menjadi figur yang mampu memberi contoh yang baik kepada anaknya. Melalui pola asuh anak yang tepat, secara bertahap anak akan memiliki kemampuan untuk mengendalikan emosinya, menekan ego bahkan menunjukkan kemurahan hati kepada sesama dan makhluk hidup lainnya.

Memaksimalkan Perkembangan Anak Melalui Permainan

Mendidik anak jelas bukan perkara mudah. Dibutuhkan komitmen kuat dan pola asuh anak yang baik. Namun orang tua juga harus tahu. Selain belajar dengan cara mencontoh, anak juga banyak belajar dari permainan yang dimainkannya.

Misalnya saat bermain puzzle. Dalam permainan ini anak akan belajar tentang bagaimana menyusun potongan-potongan puzzle menjadi satu gambar utuh. Sedangkan saat bermain dengan mainan berbentuk huruf dan angka, mereka juga akan belajar dan menghafal huruf dan angka.

Hal senada juga berlaku dalam permainan yang menuntut interaksi dengan orang lain. Dalam permainan ini, anak tidak hanya bisa bersenang-senang dengan anak-anak seusianya. Di sini mereka juga bisa belajar tentang bagaimana caranya berkomunikasi dan bersosialisasi dengan baik.

Pola asuh anak seperti ini bukan hanya membuat pendidikan menjadi terasa menyenangkan. Cara ini juga membantu anak untuk belajar secara lebih natural tanpa harus merasa tertekan.

Permainan yang Mengasah Otak dan Motorik Anak

Anak tumbuh dengan caranya sendiri. Mereka belajar dari permainan yang dimainkan dan berkembang sesuai dengan pola asuh anak yang diterapkan oleh orang tuanya. Sayangnya, tidak sedikit orang tua yang merasa bingung saat harus memilih permainan seperti apa yang baik untuk membantu mengasah otak dan motorik anak.

Apakah mainan yang dipilih benar-benar aman? Apakah mainan tersebut sesuai dengan kebutuhan si kecil? Kekhawatiran semacam ini lazim dialami oleh orang tua baru. Jika Anda juga mengalami hal yang sama, berikut beberapa jenis permainan yang baik untuk mengasah otak dan motorik serta mampu mendukung fase perkembangan anak.

  1. Puzzle

    Sudah menjadi rahasia umum kalau puzzle bisa membantu mengasah otak anak. Permainan yang satu ini akan mendorong si kecil untuk mengenali bentuk dan menyelesaikan masalah. Bukan hanya itu saja. Puzzle juga bisa melatih koordinasi mata dan tangan hingga mendorong anak agar lebih fokus saat mengerjakan sesuatu. Ada beberapa jenis puzzle yang bisa dijadikan pilihan dan menjadi bagian dalam pola asuh anak. Kini juga ada puzzle berbentuk bola yang dilengkapi dengan huruf dan angka. Selain membantu mengasah otak dan kemampuan motorik anak, puzzle seperti ini juga bisa membantu mereka belajar tentang huruf dan angka.

  1. Mainan Blok

    Mainan ini biasanya hadir dalam bentuk kubus atau balok warna-warni. Ada juga beberapa bentuk lain seperti limas dan kerucut dalam satu paketnya. Mainan blok ini sangat bagus untuk membantu mengembangkan kemampuan kognitif dan motorik anak. Si kecil juga bisa belajar berbagai macam bentuk. Karena itulah, tidak salah jika memberikan mainan ini kepada si kecil, khususnya pada masa emas dalam fase perkembangan anak.

  1. Menggambar dan Mewarnai

    Di bangku taman kanak-kanak bahkan PAUD, aktivitas menggambar dan mewarnai kerap menjadi aktivitas favorit bagi anak-anak. Bukan tanpa alasan. Menggambar sendiri memang menyenangkan. Namun lebih dari itu, menggambar dan mewarnai juga bagus untuk mengasah kreativitas dan imajinasi anak. Menggambar juga sangat bagus untuk membantu mengembangkan kemampuan motorik anak, khususnya motorik halus. Saat menggambar, anak akan belajar bagaimana cara memegang pensil gambar dan pensil warna. Dengan pola asuh anak yang baik, si kecil akan tumbuh menjadi pribadi yang imajinatif.

  1. Membuat Kerajinan Tangan

    Sepintas mungkin ini terdengar terlalu sulit bagi anak-anak. Tapi orang tua juga perlu ingat bahwa tidak semua kerajinan tangan itu rumit. Ada juga kerajinan tangan yang sederhana. Anak-anak bisa belajar membuat kerajinan tangan seperti ini. Misalnya saja seperti membuat hiasan dinding sederhana, bermain kertas lipat atau sejenisnya. Membuat kerajinan tangan bisa membantu mengembangkan imajinasi dan kreativitas anak. Permainan yang banyak mengandalkan keterampilan tangan ini juga sangat bagus untuk mengembangkan kemampuan motoriknya. Namun tentu saja, sesuaikan jenis kerajinan tangan yang ingin dibuat dengan fase perkembangan anak. Dengan cara ini, manfaat yang bisa diperoleh akan terasa lebih optimal.

  1. Bola

    Mainan yang satu ini sangat bagus untuk melatih saraf gerak si kecil. Baik itu saraf gerak tangan maupun kaki, bola bisa jadi mainan yang bisa dimainkan oleh anak di segala rentang usia.Bola sendiri bisa dimainkan dengan banyak cara. Mulai dari lempar tangkap sampai sepak bola, semua permainan tersebut sangat bagus untuk melatih kemampuan motorik anak. Selain itu, anak juga bisa belajar tentang aturan permainan yang pastinya akan berguna saat ia dewasa kelak.
    Meski demikian, orang tua tetap harus memilih jenis bola yang paling cocok dengan fase perkembangan anak. Hindari memberi bola yang ukurannya terlalu kecil atau terbuat dari material berbahaya.

Kesimpulan

Pola asuh anak akan sangat menentukan perkembangan dan masa depan si kecil. Pola asuh ini akan terus berubah dan harus selalu disesuaikan dengan usia anak dan perkembangan zaman. Meski demikian, ada beberapa hal yang tidak banyak berubah.

Orang tua harus selalu ingat bahwa anak belajar dengan cara mencontoh siapa pun yang ada di sekelilingnya. Dalam banyak kasus, orang tua adalah figur paling dekat sekaligus paling banyak dicontoh oleh anak. Memberi contoh yang baik adalah salah satu cara terbaik untuk mendidik buah hati. Selain itu, pola asuh anak yang seperti ini juga bisa memberi dampak positif bagi hubungan antara orang tua dan anak.

Selain itu anak-anak juga banyak belajar dari permainan yang dimainkannya. Hanya saja, orang tua juga harus tahu permainan seperti apa yang sebaiknya dipilih. Dalam fase perkembangan anak, permainan yang banyak melibatkan anggota gerak dan otak lebih dianjurkan. Begitu juga dengan permainan yang mendorong si kecil untuk bersosialisasi. Itulah kenapa mainan seperti puzzle kerap dijumpai di play group, PAUD dan Taman Kanak-Kanak. Dibandingkan dengan game, permainan seperti ini jauh lebih baik untuk menunjang tumbuh kembang si kecil.

 

Leave a comment